Kamis, 13 April 2017

Cerita sebelum tidur

Kaos Kaki Pak RT


Di sebuah desa kecil tepatnya di pinggiran kota jogja, seorang pria bernama pak Untung tinggal. Ia berbagi atap bersama istri dan tiga orang anaknya. Istrinya merawat anak dirumah sementara pak untung sendiri menjabat sebagai ketua RT di kawasan rumahnya di desa itu. Sewaktu sedang senggang ia memutuskan untuk pulang dan mencuci pakaiannya dikarenakan istri dan anak-anaknya sedang berbelanja di pasar. Pak Untung tentu punya pakaian favoritnya, sebuah batik cokelat dan celana kain hitam lengkap dengan sepatu kets hitam. Tentu itu saja tidak cukup, ia selalu menggunakan peci dan memakai kaos kaki cokelat andalannya. Hari itu kaos kakinya sudah nampak berubah warna, cokelatnya semakin gelap bercampur dengan aroma-aroma tipis bak bawang putih yang menyayat hidung.  Sesekali di ciuminya kaos kakinya. “Bau ini mengingatkanku ketika masih muda” Pak Untung berucap pada kaos kakinya. Saat mulai diguyurnya kaos kaki cokelat itu, air yang tumpah pun nampak memiliki warna yang sama. Cokelat muda, entah dari warna yang luntur terkena guyuran itu, atau datang dari kotoran yang mulai larut terbawa air. Ia mengambil sebuah sabut dan kemudian mulai menggosoknnya dengan genit. Sambil asik menggosok, sesekali pak Untung bernyanyi kecil, “kaos kaki… kaos kaki… kau peluk kakiku mesra….” Di ikuti beberapa siulan sumbang. Pak Untung memang tidak pernah ngoleskan diterjen atau sabun saat mencuci kaos kaki favoritnya, ia takut aura dalam kaos kakinya luntur. Saat selesai membilas, pak Untung memperhatikan dengan seksama tiang jemuran yang ada di halaman rumahnya. “hmmm… agak kurang simetris” katanya. Memang pak Untung selalu Perfectionist jika menyangkut urusan kaos kakinya. Setelah menentukan posisi yang benar-benar sempurna pak Untung pun mengusap keringat di keningnya dengan tangan kiri sambil mengembuskan nafas lega.Setelah mencuci, pak Untung segera masuk rumah dan menyerbu sebuah pisang rebus dan teh hangat yang bertengger manis di atas meja. Di dudukinya kursi kayu dengan bibir yang tak henti-hentinya menyamun pisang rebus. Nampaknya setelah tiga onggok pisang habis dilahapnya, mulai datanglah angin-angin kecil yang mengundang kantuk. Dalam sekedip mata, pak Untung segera terlelap dalam mimpinya. Ia tak menduga jika angin kecil yang singgah tadi ternyata mengundang banyak teman. Angin tersebut mengajak beberapa awan gelap yang tidak berselang lama berubah menjadi hujan. Pak Untung yang masih terlelap dalam mimpinya tidak menyadari angin-angin tadi kemudian menerbangkan kaos kaki favoritnya. Kaos kaki itu memang dicuci terikat oleh pak Untung berharap dapat kering secara bersamaan, namun itu juga memberikan pribahasa bagi sang angin, yaitu sekali dayung dua pulau terlampaui yang berarti memudahkan angin untuk menerbangkannya sekaligus.Setelah terbangun, dengan riang pak Untung segera menuju halaman rumahnya berharap kaos kakinya kering. Betapa terkejutnya ia ketika di dapatinya kaos kakinya hilang. Pak Untung kemudian geram, ia tak tahu menahu bahwa anginlah yang t’lah menerbangkan kaos kakinya. “Bangsat betul, kaos kakiku dicuri di siang bolong” ia mengerutu. bergegas ia pergi ke masjid terdekat dari rumahnya. Dengan muka kecut ia berlari kecil dengan mengenakan kaos oblong dan sarung miliknya. Sesampainya di masjid ia menyapa penjaga masjid kemudian memberitahukan apa yang terjadi. Setelah memberitahukan bahwa kaos kakinya hilang, pak Untung langsung meninggalkan masjid tanpa sepatah katapun. Seorang warga bernama Gendeng langsung sigap menanggapi perkataan pak Untung dan segera memberitakannya melalui pengeras suara masjid. Namun seperti namanya Gendeng adalah seorang pemuda tamatan SD yang bahkan tidak bisa membaca. Berbekal ingatan ia beritakan informasi yang didapatnya dari pak Untung.“Bapak-bapak, Ibu-ibu di informasikan bahwa kaos kaki Pak RT hilang, jika barangkali ada yang melihat mohon segera melaporkan hal tersebut. Saya ulangi kaos kaki pak RT hilang” dengan lantang dan penuh percaya diri Gendeng menginformasikan hal tersebut. Dalam hitungan menit saja, kabar tadi sudah tersiar sampai di RT sebelah. Warga yang mendengarpun kebingungan. Karena pengeras suara masjid tersebut kadang-kadang suaranya agak rusak sehingga informasi yang diterima warga beragam. Salah seorang pedagang baju mendengar bahwa kaos pak RT menghilang, segera setelah mendengar itu, ia bergegas menuju rumah Pak Untung berbekal beberapa helai kaos andalan yang ia jual. Ada juga hansip yang mendengar bahwa Pak RT menghilang, bergegas menuju rumah pak Untung dengan membawa kentung dan borgol yang ia buat sendiri menggunakan tali. Warga lainnya yang mendengar juga mendatangi rumah pak Untung sambil membawa kebingungan dalam hatinya. Pak Untung yang gelisah dirumah kemudian dikagetkan dengan datangnya warga-warga kerumahnya.“pak RT katanya kaosnya hilang ya? Ini saya bawakan kaos-kaos kualitas import  ini made in USA pak RT kalo beli dua saya kasih bonus satu” salah seorang pedangan kaos berbicara dengan penuh harap. Belum sempat pak Untung menjawab, pak Ijo, seorang kepala hansip ikut menyerobot percakapan. “Pak RT??? Katanya hilang? Saya sudah mengabarkan satu battalion di grup whatsup untuk nangkap penculiknya. Kita sudah bersenjata lengkap juga” dengan wajah bingung seorang hansip desa. Lagi-lagi sebelum sempat menjawab, seorang dukun handal dari desa itu menawarkan jasanya “ pak RT, kalo urusan hilang dan menghilang itu urusan saya, pak RT tinggal siapan bunga 7 warna saja atau kalau repot ya….. tinggal  bunga bank saja  pak RT” seraya si dukun mengosok-gosokan jempol dan telunjuknya. Pak Untung kemudian geram, Ia kemudian berteriak kepada semua orang dihadapannya “yang hilang itu kaos kaki saya” ucap pak Untung, “Saya tidak butuh kaos import yang kamu tawarkan”,”saya juga gak butuh omong kosong mu Ijo, kerjaanmu biasanya juga cuman ngopi sambil main gaple di warung remang dekat sawah.” Kemudian pak dukun. Kau itu dukun gadungan, kerjaanmu hanya menebak. Mbok jangan nipu aku to.“Semua warga yang mendengarpun dengan sedikit mengerutkan alis sembari menelan air liur menerima jawaban suntuk dari pak Untung. Mereka kemudian berpamitan dan mulai berhamburan pulang karena menurut mereka kesalahpahaman t’lah selesai, Tetapi tidak bagi pak Untung. Warga-warga tadi membuat kekhawatirannya semakin menjadi-jadi. Ia takut apabila kaos kakinya itu sudah dibawa meninggalkan pulau jawa. Terlintas di pikirannya untuk pergi dari rumah demi mencari kaos kaki kesayangannya, namun belum sempat ia mantapkan niat, kedatangan istri dan anak-anaknya menikung semua pikiran itu. “mas, kowe ngopo mas? Koyo wong bar Kelangan wae” istrinya bertanya. Dengan wajah kebingungan pak Untung menjawab “iki lho honey, kaos kaki ku ilang”. “halah mas….mas…. ya tinggal beli baru to” kata istri pak Untung dengan nada heran. Pak Untung manyahut dengan nada pelan,”tapi kan itu hadiah yang kamu kasih ke saya sewaktu kita mboncengan naik sepeda dulu honey, lagipula jadi RT juga ndak dapat gaji….”.              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Dalam "Insomnia"

Di sudut ruang dingin, angin mengetuk dari jendela Yang mengizinkan ia singgah Di antara lampu-lampu hias yang memantul pada langi...