Rabu, 02 Desember 2015

Cerpen

Diam


Di malam itu turun hujan. Membasahi seluruh badannya, melunturkan semua harapan ketika ia memandangi pintu rumahnya. Langkah demi langkah ia beranikan ketika berjalan memasuki tiap ruangan dalam rumahnya. Ia terdiam. Air hujan yang memenuhi pakaiannya ternyata juga membasahi pipinya. Ia kembali terdiam. Melihat kedua adiknya yang tewas bersimbah darah dihadapannya. Ia hanya bisa terdiam. Sejak malam itu ia tak pernah Nampak disekitar rumah ataupun lingkungan sekolahnya. Ia seolah lenyap. Ia meninggalkan kehidupannya demi mengetahui apa yang t’lah terjadi pada kedua adiknya. Saat itu diberitakan bahwa rumahnya menjadi sasaran kawanan pencuri dan kedua adiknyalah yang menjadi korban.
            Sudah hampir dua tahun setelah kejadian itu. Polisi belum menemukan bukti-bukti bahkan orang yang dicurigai sebagai pelaku, hal itulah yang merubah seluruh hidupnya. Ia memang seorang lelaki yang baik, namun keadaan tentu saja dapat merubah siapapun. Kini ia nampak seperti seekor singa yang lapar. Ia dipenuhi dengan ambisi untuk balas dendam. Ia seolah sudah bersiap menerkam mangsa yang ia lihat. Hal itu pula yang membuatku bertemu dengannya. Aku adalah seorang wartawan yang kebetulan ada ditempat kejadian waktu itu. Karena itu juga aku turun langsung demi membantunya mencari kebenaran. Setiap hari aku mencari informasi baru yang mana nantinya akan aku sampaikan padanya. Semakin jauh kami mencari informasi, semakin dekat hubungan kami. Kami seolah menjadi rekan demi mencari pelaku pembunuhan tersebut. Dalam enam bulan kami belum menemukan perkembangan apapun lagi.
            Kami kembali berkelana. Pergi ke berbagai tempat demi mengumpulkan informasi sampai dimana kami bertemu dengan seorang kakek tua yang setiap harinya membersihkan makam disebuah desa kecil. kakek tersebut sangat baik hati. Ia mengizinkan kami untuk tinggal dirumahnya yang sudah tua namun tetap terawat. Kakek tersebut ternyata bukan orang biasa. Ia adalah orang yang mendapatkan anugerah untuk mampu melompat ke masa lalu. Mulanya kami agak ragu dengan pernyataan kakek tersebut hingga si kakek  menunjukan kekuatannya tersebut. Ia keluar dari rumah tuanya dan duduk di bawah pohon cemara yang besar. Wajahnya tampak datar, ku kira ia sedang mencoba berkonsentrasi. Kemudian ia seolah terdiam, tatapannya menjadi kosong selama beberapa detik lalu kembali normal. Kakek itu menghampiri kami lalu menceritakan semua yang terjadi pada kami yang bahkan belum sempat kami bicarakan kepada beliau. Kami pun hanya bisa terdiam sambil berbisik dalam hati masing-masing. Berkata bahwa masalah ini akan segera berakhir jika kakek ini bersedia membantu kami. Akhirnya kami memutuskan untuk meminta bantuannya memecahkan masalah kami. Kakek tersebut bersedia dan langsung saja kami mengajak kakek itu ke tempat dimana semua masalah ini dimulai. Sebelum ritual kakek dimulai, kakek itu berkata”apapun yang terjadi jangan menyesalinya, karna aku dapat dengan sesuka hatiku berkelana kemasa lalu tetapi aku tidak mampu mengubahnya”.

             Suasana hening terjadi beberapa saat, si kakek mengeluarkan sebuah catatan kecil yang kemudian ia letakan di dekat ruang tamu rumah itu, lalu kembali masuk ke kamar dimana kejadian itu terjadi. Kami menunggu di dekat beliau menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kali ini cukup lama, aku melihat wajah kakek yang nampak kosong tersebut hampir satu jam lamanya. Aku tak begitu heran mengapa kakek itu tampak begitu lama melihat kejadian ini terjadi hampir tiga tahun yang lalu. Beberapa waktu kemudian kesadaran kakek tersebut nampak kembali. Ia terdiam, entah bingung karena apa yang telah ia lihat sebelumnya atau karena kakek itu mencoba memulihkan tubuhnya. Segera kami ingin langsung menanyakan beberapa pertanyaan kepada beliau namun semua rasa penasaran kami dihentikan dengan tangan si kakek yang mengarah kepada kami seolah-olah memberikan isyarat untuk jangan bertanya. Kakek itu bangkit dari tempatnya duduk kemudian pergi keluar untuk mengambil buk catatan yang ia tinggalkan tadi, ku lihat raut wajahnya nampak murung. Diarahkannya diari kecil itu pada kami sambil mengangguk-anggukan dagunya.  Aku pun segera mengambilnya, meneguk liurku kemudian membuka buku itu dengan perlahan. Disana nampak beberapa catatan singkat milik si kakek yang mungkin tertulis 3 tahun sebelum hari ini. Catatan tersebut berbunyi “ pada malam hari sekitaran pukul Sembilan aku mendengar sebuah pertengkaran hebat dari dalam rumah. Hari ini hujan cukup deras diiringi suara petir yang terus-menerus bersahutan satu sama lain. Tak lama setelah itu aku seperti mendengar suara barang pecah, entah itu sebuah vas bunga atau piring, lalu dengan cepat aku langsung menerobos masuk dan mengintip dibalik celah-celah jendela. Aku cukup kesulitan mendapatkan posisi yang pas untuk mengetahui apa yang terjadi sebelum mendengar beberapa teriakan kecil dari dalam rumah tersebut. Lalu aku sadar t’lah melihat sebuah perkelahian dua orang kakak beradik yang kemudian saling tikam dan seorangnya lagi mengiris tangannya dengan pisau dapur yang ia gunakan untuk menusuk adiknya. Aku berpikir bahwa mereka berdua bertengkar karena masalah pria namun yang ku sayangkan aku tak bisa merubahnya. Aku berpikir aku mampu, tidak! Lebih tepatnya aku bisa melakukannya dengan catatan aku akan menulis ulang sejarah dan berpikir bahwa tindakanku dapat menimbulkan paradox waktu. Aku turut berduka atas segalanya”. Setelah membaca catatan tersebut suasana diam kembali muncul diantara kami. Kakek tersebut menempuk bahu kami berdua sebelum pamit untuk meninggalkan kami berdua. Ku ikuti dia lalu mengantarkannya hingga pintu depan. Beberapa saat kemudian aku masuk kembali dan terdiam melihatnya memotong aliran darah pada tangannya dengan menggunakan pisau yang sama yang digunakan adiknya untuk saling membunuh. Aku meneteskan beberapa air mata sambil berkata dalam hati. Berpikir mengapa semua tragedi ini saling terhubung atau memang telah di atur sejak awal. Karena pencarian kami pada beberapa tahun terakhir harus berakhir dengan keluarganya sendirilah yang menjadi tersangka sekaligus korban. Hari itu juga akhirnya tetap menjadi sunyi dan diam. -Ibra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita Dalam "Insomnia"

Di sudut ruang dingin, angin mengetuk dari jendela Yang mengizinkan ia singgah Di antara lampu-lampu hias yang memantul pada langi...