Selasa, 05 Februari 2019

Cerita Dalam "Insomnia"


Di sudut ruang dingin, angin mengetuk dari jendela

Yang mengizinkan ia singgah

Di antara lampu-lampu hias yang memantul pada langit-langit
Juga riuh serangga yang satu sama lainnya bersahutan

Kepalanya berbisik pelan
Mengajak untuk menyalakan televise
Tangannya menghalangi
Merekapun berkelahi
Matanya mencoba menghampiri dan mengengahi
Di tonton oleh sebatang korek api
Yang sibuk mencari rokok dan kopi

Tetapi saat semua itu terjadi
Ia malah pergi melarikan diri
Ke tempat paling aman...

Nyaman....

Nyaman....

Nyaman......

.....

Sampai esok pagi





Kembang api seperti kenangan. Bukan sebagai ia yang bersinar sementara kemudian menghilang untuk selamanya. Namun, ia yang bersinar paling terang di antara gelap yang kau takutkan. Maka ingatlah kenangan itu akan tetap bersinar jikalau engkau berani menginginkannya.




Sejak kecil, aku hanya mengenal abu-abu
Tapi kau terlalu terang
Tapi kau celupkan padaku apa itu cahaya
Potongan diriku yang bahagia hanya lupa
Tentang siapa aku
Juga dirimu
Yang ku sangka adalah bukti pada pagi

O, ternyata itu mimpi
Dan dirimulah bagiku waktu.



Kamis, 13 April 2017

Cerita sebelum tidur

Kaos Kaki Pak RT


Di sebuah desa kecil tepatnya di pinggiran kota jogja, seorang pria bernama pak Untung tinggal. Ia berbagi atap bersama istri dan tiga orang anaknya. Istrinya merawat anak dirumah sementara pak untung sendiri menjabat sebagai ketua RT di kawasan rumahnya di desa itu. Sewaktu sedang senggang ia memutuskan untuk pulang dan mencuci pakaiannya dikarenakan istri dan anak-anaknya sedang berbelanja di pasar. Pak Untung tentu punya pakaian favoritnya, sebuah batik cokelat dan celana kain hitam lengkap dengan sepatu kets hitam. Tentu itu saja tidak cukup, ia selalu menggunakan peci dan memakai kaos kaki cokelat andalannya. Hari itu kaos kakinya sudah nampak berubah warna, cokelatnya semakin gelap bercampur dengan aroma-aroma tipis bak bawang putih yang menyayat hidung.  Sesekali di ciuminya kaos kakinya. “Bau ini mengingatkanku ketika masih muda” Pak Untung berucap pada kaos kakinya. Saat mulai diguyurnya kaos kaki cokelat itu, air yang tumpah pun nampak memiliki warna yang sama. Cokelat muda, entah dari warna yang luntur terkena guyuran itu, atau datang dari kotoran yang mulai larut terbawa air. Ia mengambil sebuah sabut dan kemudian mulai menggosoknnya dengan genit. Sambil asik menggosok, sesekali pak Untung bernyanyi kecil, “kaos kaki… kaos kaki… kau peluk kakiku mesra….” Di ikuti beberapa siulan sumbang. Pak Untung memang tidak pernah ngoleskan diterjen atau sabun saat mencuci kaos kaki favoritnya, ia takut aura dalam kaos kakinya luntur. Saat selesai membilas, pak Untung memperhatikan dengan seksama tiang jemuran yang ada di halaman rumahnya. “hmmm… agak kurang simetris” katanya. Memang pak Untung selalu Perfectionist jika menyangkut urusan kaos kakinya. Setelah menentukan posisi yang benar-benar sempurna pak Untung pun mengusap keringat di keningnya dengan tangan kiri sambil mengembuskan nafas lega.Setelah mencuci, pak Untung segera masuk rumah dan menyerbu sebuah pisang rebus dan teh hangat yang bertengger manis di atas meja. Di dudukinya kursi kayu dengan bibir yang tak henti-hentinya menyamun pisang rebus. Nampaknya setelah tiga onggok pisang habis dilahapnya, mulai datanglah angin-angin kecil yang mengundang kantuk. Dalam sekedip mata, pak Untung segera terlelap dalam mimpinya. Ia tak menduga jika angin kecil yang singgah tadi ternyata mengundang banyak teman. Angin tersebut mengajak beberapa awan gelap yang tidak berselang lama berubah menjadi hujan. Pak Untung yang masih terlelap dalam mimpinya tidak menyadari angin-angin tadi kemudian menerbangkan kaos kaki favoritnya. Kaos kaki itu memang dicuci terikat oleh pak Untung berharap dapat kering secara bersamaan, namun itu juga memberikan pribahasa bagi sang angin, yaitu sekali dayung dua pulau terlampaui yang berarti memudahkan angin untuk menerbangkannya sekaligus.Setelah terbangun, dengan riang pak Untung segera menuju halaman rumahnya berharap kaos kakinya kering. Betapa terkejutnya ia ketika di dapatinya kaos kakinya hilang. Pak Untung kemudian geram, ia tak tahu menahu bahwa anginlah yang t’lah menerbangkan kaos kakinya. “Bangsat betul, kaos kakiku dicuri di siang bolong” ia mengerutu. bergegas ia pergi ke masjid terdekat dari rumahnya. Dengan muka kecut ia berlari kecil dengan mengenakan kaos oblong dan sarung miliknya. Sesampainya di masjid ia menyapa penjaga masjid kemudian memberitahukan apa yang terjadi. Setelah memberitahukan bahwa kaos kakinya hilang, pak Untung langsung meninggalkan masjid tanpa sepatah katapun. Seorang warga bernama Gendeng langsung sigap menanggapi perkataan pak Untung dan segera memberitakannya melalui pengeras suara masjid. Namun seperti namanya Gendeng adalah seorang pemuda tamatan SD yang bahkan tidak bisa membaca. Berbekal ingatan ia beritakan informasi yang didapatnya dari pak Untung.“Bapak-bapak, Ibu-ibu di informasikan bahwa kaos kaki Pak RT hilang, jika barangkali ada yang melihat mohon segera melaporkan hal tersebut. Saya ulangi kaos kaki pak RT hilang” dengan lantang dan penuh percaya diri Gendeng menginformasikan hal tersebut. Dalam hitungan menit saja, kabar tadi sudah tersiar sampai di RT sebelah. Warga yang mendengarpun kebingungan. Karena pengeras suara masjid tersebut kadang-kadang suaranya agak rusak sehingga informasi yang diterima warga beragam. Salah seorang pedagang baju mendengar bahwa kaos pak RT menghilang, segera setelah mendengar itu, ia bergegas menuju rumah Pak Untung berbekal beberapa helai kaos andalan yang ia jual. Ada juga hansip yang mendengar bahwa Pak RT menghilang, bergegas menuju rumah pak Untung dengan membawa kentung dan borgol yang ia buat sendiri menggunakan tali. Warga lainnya yang mendengar juga mendatangi rumah pak Untung sambil membawa kebingungan dalam hatinya. Pak Untung yang gelisah dirumah kemudian dikagetkan dengan datangnya warga-warga kerumahnya.“pak RT katanya kaosnya hilang ya? Ini saya bawakan kaos-kaos kualitas import  ini made in USA pak RT kalo beli dua saya kasih bonus satu” salah seorang pedangan kaos berbicara dengan penuh harap. Belum sempat pak Untung menjawab, pak Ijo, seorang kepala hansip ikut menyerobot percakapan. “Pak RT??? Katanya hilang? Saya sudah mengabarkan satu battalion di grup whatsup untuk nangkap penculiknya. Kita sudah bersenjata lengkap juga” dengan wajah bingung seorang hansip desa. Lagi-lagi sebelum sempat menjawab, seorang dukun handal dari desa itu menawarkan jasanya “ pak RT, kalo urusan hilang dan menghilang itu urusan saya, pak RT tinggal siapan bunga 7 warna saja atau kalau repot ya….. tinggal  bunga bank saja  pak RT” seraya si dukun mengosok-gosokan jempol dan telunjuknya. Pak Untung kemudian geram, Ia kemudian berteriak kepada semua orang dihadapannya “yang hilang itu kaos kaki saya” ucap pak Untung, “Saya tidak butuh kaos import yang kamu tawarkan”,”saya juga gak butuh omong kosong mu Ijo, kerjaanmu biasanya juga cuman ngopi sambil main gaple di warung remang dekat sawah.” Kemudian pak dukun. Kau itu dukun gadungan, kerjaanmu hanya menebak. Mbok jangan nipu aku to.“Semua warga yang mendengarpun dengan sedikit mengerutkan alis sembari menelan air liur menerima jawaban suntuk dari pak Untung. Mereka kemudian berpamitan dan mulai berhamburan pulang karena menurut mereka kesalahpahaman t’lah selesai, Tetapi tidak bagi pak Untung. Warga-warga tadi membuat kekhawatirannya semakin menjadi-jadi. Ia takut apabila kaos kakinya itu sudah dibawa meninggalkan pulau jawa. Terlintas di pikirannya untuk pergi dari rumah demi mencari kaos kaki kesayangannya, namun belum sempat ia mantapkan niat, kedatangan istri dan anak-anaknya menikung semua pikiran itu. “mas, kowe ngopo mas? Koyo wong bar Kelangan wae” istrinya bertanya. Dengan wajah kebingungan pak Untung menjawab “iki lho honey, kaos kaki ku ilang”. “halah mas….mas…. ya tinggal beli baru to” kata istri pak Untung dengan nada heran. Pak Untung manyahut dengan nada pelan,”tapi kan itu hadiah yang kamu kasih ke saya sewaktu kita mboncengan naik sepeda dulu honey, lagipula jadi RT juga ndak dapat gaji….”.              

Rabu, 02 Desember 2015

Cerpen

Diam


Di malam itu turun hujan. Membasahi seluruh badannya, melunturkan semua harapan ketika ia memandangi pintu rumahnya. Langkah demi langkah ia beranikan ketika berjalan memasuki tiap ruangan dalam rumahnya. Ia terdiam. Air hujan yang memenuhi pakaiannya ternyata juga membasahi pipinya. Ia kembali terdiam. Melihat kedua adiknya yang tewas bersimbah darah dihadapannya. Ia hanya bisa terdiam. Sejak malam itu ia tak pernah Nampak disekitar rumah ataupun lingkungan sekolahnya. Ia seolah lenyap. Ia meninggalkan kehidupannya demi mengetahui apa yang t’lah terjadi pada kedua adiknya. Saat itu diberitakan bahwa rumahnya menjadi sasaran kawanan pencuri dan kedua adiknyalah yang menjadi korban.
            Sudah hampir dua tahun setelah kejadian itu. Polisi belum menemukan bukti-bukti bahkan orang yang dicurigai sebagai pelaku, hal itulah yang merubah seluruh hidupnya. Ia memang seorang lelaki yang baik, namun keadaan tentu saja dapat merubah siapapun. Kini ia nampak seperti seekor singa yang lapar. Ia dipenuhi dengan ambisi untuk balas dendam. Ia seolah sudah bersiap menerkam mangsa yang ia lihat. Hal itu pula yang membuatku bertemu dengannya. Aku adalah seorang wartawan yang kebetulan ada ditempat kejadian waktu itu. Karena itu juga aku turun langsung demi membantunya mencari kebenaran. Setiap hari aku mencari informasi baru yang mana nantinya akan aku sampaikan padanya. Semakin jauh kami mencari informasi, semakin dekat hubungan kami. Kami seolah menjadi rekan demi mencari pelaku pembunuhan tersebut. Dalam enam bulan kami belum menemukan perkembangan apapun lagi.
            Kami kembali berkelana. Pergi ke berbagai tempat demi mengumpulkan informasi sampai dimana kami bertemu dengan seorang kakek tua yang setiap harinya membersihkan makam disebuah desa kecil. kakek tersebut sangat baik hati. Ia mengizinkan kami untuk tinggal dirumahnya yang sudah tua namun tetap terawat. Kakek tersebut ternyata bukan orang biasa. Ia adalah orang yang mendapatkan anugerah untuk mampu melompat ke masa lalu. Mulanya kami agak ragu dengan pernyataan kakek tersebut hingga si kakek  menunjukan kekuatannya tersebut. Ia keluar dari rumah tuanya dan duduk di bawah pohon cemara yang besar. Wajahnya tampak datar, ku kira ia sedang mencoba berkonsentrasi. Kemudian ia seolah terdiam, tatapannya menjadi kosong selama beberapa detik lalu kembali normal. Kakek itu menghampiri kami lalu menceritakan semua yang terjadi pada kami yang bahkan belum sempat kami bicarakan kepada beliau. Kami pun hanya bisa terdiam sambil berbisik dalam hati masing-masing. Berkata bahwa masalah ini akan segera berakhir jika kakek ini bersedia membantu kami. Akhirnya kami memutuskan untuk meminta bantuannya memecahkan masalah kami. Kakek tersebut bersedia dan langsung saja kami mengajak kakek itu ke tempat dimana semua masalah ini dimulai. Sebelum ritual kakek dimulai, kakek itu berkata”apapun yang terjadi jangan menyesalinya, karna aku dapat dengan sesuka hatiku berkelana kemasa lalu tetapi aku tidak mampu mengubahnya”.

             Suasana hening terjadi beberapa saat, si kakek mengeluarkan sebuah catatan kecil yang kemudian ia letakan di dekat ruang tamu rumah itu, lalu kembali masuk ke kamar dimana kejadian itu terjadi. Kami menunggu di dekat beliau menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kali ini cukup lama, aku melihat wajah kakek yang nampak kosong tersebut hampir satu jam lamanya. Aku tak begitu heran mengapa kakek itu tampak begitu lama melihat kejadian ini terjadi hampir tiga tahun yang lalu. Beberapa waktu kemudian kesadaran kakek tersebut nampak kembali. Ia terdiam, entah bingung karena apa yang telah ia lihat sebelumnya atau karena kakek itu mencoba memulihkan tubuhnya. Segera kami ingin langsung menanyakan beberapa pertanyaan kepada beliau namun semua rasa penasaran kami dihentikan dengan tangan si kakek yang mengarah kepada kami seolah-olah memberikan isyarat untuk jangan bertanya. Kakek itu bangkit dari tempatnya duduk kemudian pergi keluar untuk mengambil buk catatan yang ia tinggalkan tadi, ku lihat raut wajahnya nampak murung. Diarahkannya diari kecil itu pada kami sambil mengangguk-anggukan dagunya.  Aku pun segera mengambilnya, meneguk liurku kemudian membuka buku itu dengan perlahan. Disana nampak beberapa catatan singkat milik si kakek yang mungkin tertulis 3 tahun sebelum hari ini. Catatan tersebut berbunyi “ pada malam hari sekitaran pukul Sembilan aku mendengar sebuah pertengkaran hebat dari dalam rumah. Hari ini hujan cukup deras diiringi suara petir yang terus-menerus bersahutan satu sama lain. Tak lama setelah itu aku seperti mendengar suara barang pecah, entah itu sebuah vas bunga atau piring, lalu dengan cepat aku langsung menerobos masuk dan mengintip dibalik celah-celah jendela. Aku cukup kesulitan mendapatkan posisi yang pas untuk mengetahui apa yang terjadi sebelum mendengar beberapa teriakan kecil dari dalam rumah tersebut. Lalu aku sadar t’lah melihat sebuah perkelahian dua orang kakak beradik yang kemudian saling tikam dan seorangnya lagi mengiris tangannya dengan pisau dapur yang ia gunakan untuk menusuk adiknya. Aku berpikir bahwa mereka berdua bertengkar karena masalah pria namun yang ku sayangkan aku tak bisa merubahnya. Aku berpikir aku mampu, tidak! Lebih tepatnya aku bisa melakukannya dengan catatan aku akan menulis ulang sejarah dan berpikir bahwa tindakanku dapat menimbulkan paradox waktu. Aku turut berduka atas segalanya”. Setelah membaca catatan tersebut suasana diam kembali muncul diantara kami. Kakek tersebut menempuk bahu kami berdua sebelum pamit untuk meninggalkan kami berdua. Ku ikuti dia lalu mengantarkannya hingga pintu depan. Beberapa saat kemudian aku masuk kembali dan terdiam melihatnya memotong aliran darah pada tangannya dengan menggunakan pisau yang sama yang digunakan adiknya untuk saling membunuh. Aku meneteskan beberapa air mata sambil berkata dalam hati. Berpikir mengapa semua tragedi ini saling terhubung atau memang telah di atur sejak awal. Karena pencarian kami pada beberapa tahun terakhir harus berakhir dengan keluarganya sendirilah yang menjadi tersangka sekaligus korban. Hari itu juga akhirnya tetap menjadi sunyi dan diam. -Ibra.

Cerita Dalam "Insomnia"

Di sudut ruang dingin, angin mengetuk dari jendela Yang mengizinkan ia singgah Di antara lampu-lampu hias yang memantul pada langi...