Diam
Di malam itu turun hujan. Membasahi
seluruh badannya, melunturkan semua harapan ketika ia memandangi pintu
rumahnya. Langkah demi langkah ia beranikan ketika berjalan memasuki tiap ruangan
dalam rumahnya. Ia terdiam. Air hujan yang memenuhi pakaiannya ternyata juga
membasahi pipinya. Ia kembali terdiam. Melihat kedua adiknya yang tewas
bersimbah darah dihadapannya. Ia hanya bisa terdiam. Sejak malam itu ia tak
pernah Nampak disekitar rumah ataupun lingkungan sekolahnya. Ia seolah lenyap.
Ia meninggalkan kehidupannya demi mengetahui apa yang t’lah terjadi pada kedua
adiknya. Saat itu diberitakan bahwa rumahnya menjadi sasaran kawanan pencuri
dan kedua adiknyalah yang menjadi korban.
Sudah hampir
dua tahun setelah kejadian itu. Polisi belum menemukan bukti-bukti bahkan orang
yang dicurigai sebagai pelaku, hal itulah yang merubah seluruh hidupnya. Ia
memang seorang lelaki yang baik, namun keadaan tentu saja dapat merubah
siapapun. Kini ia nampak seperti seekor singa yang lapar. Ia dipenuhi dengan
ambisi untuk balas dendam. Ia seolah sudah bersiap menerkam mangsa yang ia
lihat. Hal itu pula yang membuatku bertemu dengannya. Aku adalah seorang
wartawan yang kebetulan ada ditempat kejadian waktu itu. Karena itu juga aku
turun langsung demi membantunya mencari kebenaran. Setiap hari aku mencari
informasi baru yang mana nantinya akan aku sampaikan padanya. Semakin jauh kami
mencari informasi, semakin dekat hubungan kami. Kami seolah menjadi rekan demi
mencari pelaku pembunuhan tersebut. Dalam enam bulan kami belum menemukan
perkembangan apapun lagi.
Kami kembali
berkelana. Pergi ke berbagai tempat demi mengumpulkan informasi sampai dimana
kami bertemu dengan seorang kakek tua yang setiap harinya membersihkan makam
disebuah desa kecil. kakek tersebut sangat baik hati. Ia mengizinkan kami untuk
tinggal dirumahnya yang sudah tua namun tetap terawat. Kakek tersebut ternyata
bukan orang biasa. Ia adalah orang yang mendapatkan anugerah untuk mampu
melompat ke masa lalu. Mulanya kami agak ragu dengan pernyataan kakek tersebut
hingga si kakek menunjukan kekuatannya
tersebut. Ia keluar dari rumah tuanya dan duduk di bawah pohon cemara yang
besar. Wajahnya tampak datar, ku kira ia sedang mencoba berkonsentrasi.
Kemudian ia seolah terdiam, tatapannya menjadi kosong selama beberapa detik
lalu kembali normal. Kakek itu menghampiri kami lalu menceritakan semua yang
terjadi pada kami yang bahkan belum sempat kami bicarakan kepada beliau. Kami
pun hanya bisa terdiam sambil berbisik dalam hati masing-masing. Berkata bahwa
masalah ini akan segera berakhir jika kakek ini bersedia membantu kami. Akhirnya
kami memutuskan untuk meminta bantuannya memecahkan masalah kami. Kakek
tersebut bersedia dan langsung saja kami mengajak kakek itu ke tempat dimana
semua masalah ini dimulai. Sebelum ritual kakek dimulai, kakek itu
berkata”apapun yang terjadi jangan menyesalinya, karna aku dapat dengan sesuka
hatiku berkelana kemasa lalu tetapi aku tidak mampu mengubahnya”.
Suasana hening terjadi beberapa saat, si kakek
mengeluarkan sebuah catatan kecil yang kemudian ia letakan di dekat ruang tamu
rumah itu, lalu kembali masuk ke kamar dimana kejadian itu terjadi. Kami
menunggu di dekat beliau menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kali ini
cukup lama, aku melihat wajah kakek yang nampak kosong tersebut hampir satu jam
lamanya. Aku tak begitu heran mengapa kakek itu tampak begitu lama melihat
kejadian ini terjadi hampir tiga tahun yang lalu. Beberapa waktu kemudian
kesadaran kakek tersebut nampak kembali. Ia terdiam, entah bingung karena apa
yang telah ia lihat sebelumnya atau karena kakek itu mencoba memulihkan
tubuhnya. Segera kami ingin langsung menanyakan beberapa pertanyaan kepada
beliau namun semua rasa penasaran kami dihentikan dengan tangan si kakek yang
mengarah kepada kami seolah-olah memberikan isyarat untuk jangan bertanya.
Kakek itu bangkit dari tempatnya duduk kemudian pergi keluar untuk mengambil
buk catatan yang ia tinggalkan tadi, ku lihat raut wajahnya nampak murung.
Diarahkannya diari kecil itu pada kami sambil mengangguk-anggukan dagunya. Aku pun segera mengambilnya, meneguk liurku
kemudian membuka buku itu dengan perlahan. Disana nampak beberapa catatan
singkat milik si kakek yang mungkin tertulis 3 tahun sebelum hari ini. Catatan
tersebut berbunyi “ pada malam hari
sekitaran pukul Sembilan aku mendengar sebuah pertengkaran hebat dari dalam
rumah. Hari ini hujan cukup deras diiringi suara petir yang terus-menerus
bersahutan satu sama lain. Tak lama setelah itu aku seperti mendengar suara
barang pecah, entah itu sebuah vas bunga atau piring, lalu dengan cepat aku
langsung menerobos masuk dan mengintip dibalik celah-celah jendela. Aku cukup
kesulitan mendapatkan posisi yang pas untuk mengetahui apa yang terjadi sebelum
mendengar beberapa teriakan kecil dari dalam rumah tersebut. Lalu aku sadar
t’lah melihat sebuah perkelahian dua orang kakak beradik yang kemudian saling
tikam dan seorangnya lagi mengiris tangannya dengan pisau dapur yang ia gunakan
untuk menusuk adiknya. Aku berpikir bahwa mereka berdua bertengkar karena
masalah pria namun yang ku sayangkan aku tak bisa merubahnya. Aku berpikir aku
mampu, tidak! Lebih tepatnya aku bisa melakukannya dengan catatan aku akan
menulis ulang sejarah dan berpikir bahwa tindakanku dapat menimbulkan paradox
waktu. Aku turut berduka atas segalanya”. Setelah membaca catatan tersebut
suasana diam kembali muncul diantara kami. Kakek tersebut menempuk bahu kami
berdua sebelum pamit untuk meninggalkan kami berdua. Ku ikuti dia lalu
mengantarkannya hingga pintu depan. Beberapa saat kemudian aku masuk kembali
dan terdiam melihatnya memotong aliran darah pada tangannya dengan menggunakan
pisau yang sama yang digunakan adiknya untuk saling membunuh. Aku meneteskan
beberapa air mata sambil berkata dalam hati. Berpikir mengapa semua tragedi ini
saling terhubung atau memang telah di atur sejak awal. Karena pencarian kami
pada beberapa tahun terakhir harus berakhir dengan keluarganya sendirilah yang
menjadi tersangka sekaligus korban. Hari itu juga akhirnya tetap menjadi sunyi
dan diam. -Ibra.